Rabu, 19 Mei 2010

PERANAN OKSIGEN DALAM PROSES PEMBAKARAN

1. PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Kekhawatiran dunia terhadap pelestarian hutan tidak hanya terjadi akibat eksploitasi dan perambahan hutan, namun terutama akibat kebakaran hutan. Kerusakan hutan karena kebakaran di kawasan tropis bahkan tidak jarang dipakai sebagai legitimasi kerusakan hutan sebelumnya yang terjadi oleh eksploitasi dan perambahan. Karena itu, kebakaran hutan yang merupakan faktor pemacu (trigerring factor) utama kemunduran kuantitas dan kualitas hutan perlu diantisipasi dan dicegah sedini mungkin.
Salah satu aspek yang berperan dalam proses kebakaran adalah oksigen. Oksigen memiliki peranana yang sangat besar dalam proses ini. Tanpa adanya oksigen proses pembakaran tidak akan terjadi. Melalui praktikum kali ini, dapat diketahui seberapa penting ataupun seberapa besar peranan oksigen tersebut dalam proses pembakaran, khususnya terkait dengan kebakaran hutan yang sering terjadi.


1.2 Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peranan oksigen dalam proses pembakaran


2. TINJAUAN PUSTAKA

Kebakaran hutan adalah suatu proses pembakaran yang menyebar secara bebas, menkonsumsi bahan bakar alami hutan seperti serasah, rumput, , humus, ranting-ranting kayu mati, tiang, gulma, semak, dedaunan serta pohon-pohon (Brown and Davis, 1973).
Ada tiga komponen penting untuk terjadinya kebakaran. Pertama, tersedianya bahan bakar yang mudah terbakar. Kedua, panas yang dapat meningkatkan temperatur bahan bakar sehingga mencapai titik nyala, dan ketiga suplai oksigen yang cukup untuk menjaga kelangsungan proses pembakaran. Ketiga komponen di atas membentuk segitiga api. Setiap komponen tersebut harus tersedia dalam waktu yang bersamaan, jika tidak maka tidak ada api (DeBano et al., 1998).
Dalam proses pembakaran, pada fase flaming, gas-gas yang mudah terbakar dan uap-uap yang dihasilkan naik kepermukaan bahan bakar bercampur dengan oksigen dan terbakar. Oksigen yang menentukan proses pembakaran tersebut.
Tiga tahap proses pembakaran pada pohon menurut Chandler et al.(1983) adalah :
a. Penyerapan dimana bahan bakar menyerap panas sampai titik bakar.
b. Peningkatan suhu disertai penguapan air dan hancurnya molekul jaringan pohon dan melepaskaan kandungannya yang mudah menguap.
c. Pelepasan panas dimana bahan bakar terbakar melepaskan panas dan uap air dari pembakaran.


3. BAHAN DAN METODE

3.1 Bahan dan alat

1. Gelas ukuran 200ml, 300ml, 500ml, dan 1000ml
2. Lilin
3. Korek api
4. Penggaris
5. Stopwatch

3.2 Metode

1. Sediakan alat dan bahan
2. Ukur panjang sumbu lilin yang akan digunakan
3. Nyalakan lilin dengan korek api, diamkan hingga nyala api pada lilin stabil
4. Tutup lilin dengan gelas ukuran 200ml hingga nyala api lilin padam
5. Catat waktu dari mulai lilin ditutup dengan gelas hingga nyala api pada lilin didalam gelas tersebut padam
6. Untuk mendapatkan hasil yang akurat lakukan dengan tiga kali pengulangan
7. Lakukan langkah 4,5,6 dengan menggunakan gelas dengan ukuran 300ml, 500ml, dan 1000ml

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Tabel 1. Hasil pengamatan lamanya penyalaan api
Ukuran gelas Lama Penyalaan ( detik ) Rata - Rata (detik)
1 2 3
200 mL 5,8 7,14 6,56 6,5
300 mL 8,45 8,78 9,38 8,87
500 mL 14,09 14,05 14,98 14,373
1000 mL 19,90 22,76 19,60 20,753




4.2 Pembahasan

Pembakaran adalah reaksi kimia yang cepat antara oksigen dan bahan yang dapat terbakar, disertai timbulnya cahaya dan menghasilkan kalor .Pembakaran spontan adalah pembakaran dimana bahan mengalami oksidasi perlahanlahan sehingga kalor yang dihasilkan tidak dilepaskan, akan tetapi dipakai untuk menaikkan suhu bahan secara pelan-pelan sampai mencapai suhu nyala (Soeratmo, 2003). Oksigen sangat berpengaruh pada proses pembakaran. Berdasarkan hasil percobaan kali ini dapat di ketahui pengaaruh oksigen tersebut dalam proses pembakaran.
Pada gelas yang berukuran lebih kecil, nyala api yang dapat bertahan ketika lilin ditutup memiliki lama penyalaan yang lebih sedikit di bandingkan dengan ukuran gelas yang lebih besar. Secara garis besar dapat di tulis bahwa nyala api pada gelas 200 ml 300 ml 500 ml1000 ml.
Perbedaan nyala api tersebut disebabkan banyaknya oksigen dalam gelas yang mempengaruhi dari tiap nyala api. Semakin besar ukuran gelas, maka semakin banyak oksigen yang terdapat di dalam gelas tersebut, sehingga nyala api pun dapat di pertahankan lebih lama. Selain itu, ukuran sumbu lilin juga mempengaruhi nyala api, semakin panjang sumbu lilin maka semakin besar nyala api yang mengakibatkan waktu penyalaan semakin singkat.
Tetapi, pada praktikum kali ini, factor panjang sumbu tidak mempengaruhi waktu penyalaan, karena panjang sumbu sebelumnya telah diukur sedemikian rupa sehingga ukuran sumbu lilin sama panjang.

5. KESIMPULAN

Oksigen berpengaruh besar dalam proses pembakaran. Semakin banyak jumlah oksigen dalam proses pembakaran, maka semakin lama pembakaran tersebut. Dengan banyaknya oksigen dalam proses pembakaran, pembakaran dapat berjalan lebih lama. Begitu pula sebaliknya semakin sedikit oksigen maka pembakaran berjalan lebih sebentar.

6. DAFTAR PUSTAKA

Brown and Davis. 1973. Forest Fire Control and Use. New York : Mc. Graw Hill Book Company Inc.
Chandler et al. 1983. Fire in Forestry. Volume 1. Forest Fire Behaviour and Effects. Canada and USA: Jhon Willey and Sons, Inc.
De Bano, L. F, D. G. Neary and P. F. Folliot. 1998. Fire’s Effect and Ecosystems. New York : Jhon Willey and Sons, Inc.
Suratmo, F. G. A. Husaeni dan N. S. Jaya. 2003. Pengetahuan Dasar Pengendalian Kebakaran Hutan. Bogor : Fakultas Kehutanan IPB
http://sanoesi.wordpress.com/2008/09/20/oksigen-dan-nyala-api/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar